who interest in science and arts
please visit my deviantART
http://arthemist.deviantart.com
The Hanged Man (100%) ![]()
The High Priestess (90%) ![]()
Strength (90%) ![]()
Temperance (77%) ![]()
Justice (72%) ![]()
The Lovers (70%) ![]()
The Star (67%) ![]()
Death (57%) ![]()
The Hierophant (54%) ![]()
The World (49%) ![]()
The Sun (47%) ![]()
The Hermit (44%) ![]()
The Moon (44%) ![]()
The Empress (31%) ![]()
The Tower (24%) ![]()
The Magician (18%) ![]()
Judgment (18%) ![]()
The Fool (16%) ![]()
The Devil (16%) ![]()
The Emperor (13%) ![]()
The Chariot (3%) ![]()
![]()
Wheel of Fortune (0%)
phew. it’s been forever i dont draw anything. =u= renewing Elka’s outfit!
PLEASE IGNORE THE LACK OF PROPORTION. havent draw any for this 4 months straight -_- i almost forgot how to draw.
i already draw her in other outfit. more bad-ass outfit. but when i draw it on my tablet…………………… i change a lil bit here and there……………
and when i realized…… i totally changed her outfit. damn .___.
now she looks a lil bit feminine =_= but still look bad-ass i guess :/
i wonder what will i put on the flag ._____.
selucia rovan or barossu drugelis ? .___.
adding more details~
now gotta rest. i catch a cold and having torturing fever and cough now =A=
-sign out~
wow, that looks really cool~
go get better >#>
thank you eruuuu QuQ;
*u* b sure i’ll go get better before you can say noodle :) #kungfupanda
phew. it’s been forever i dont draw anything. =u= renewing Elka’s outfit!
PLEASE IGNORE THE LACK OF PROPORTION. havent draw any for this 4 months straight -_- i almost forgot how to draw.
i already draw her in other outfit. more bad-ass outfit. but when i draw it on my tablet…………………… i change a lil bit here and there……………
and when i realized…… i totally changed her outfit. damn .___.
now she looks a lil bit feminine =_= but still look bad-ass i guess :/
i wonder what will i put on the flag ._____.
selucia rovan or barossu drugelis ? .___.
adding more details~
now gotta rest. i catch a cold and having torturing fever and cough now =A=
-sign out~
tidak ada yang lebih menyebalkan ketika kamu telah beusaha sekuat tenaga, tapi masih belum bisa dipercayai. dan tidak mendapat informasi apapun. they built circle of their own. lalu saya terasa ditinggalkan, padahal saya sudah berusaha.
rasanya
menyebalkan
menyesakkan
maaf saya nyampah.

ivyliau: Message this to any person who you find charming, sweet and just simply admirable. Keep the love spreading. ♥ (ノ◕ヮ◕)ノ*:・゚✧
back to you too lol =D
some summons.
Requiem Excalibur and Aria Excalibur, made for Orda of Knights….. Full form (first row) and Enigma Mode (second row)
eruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu really ;___; i wish i can borrow those godly hands of yours
(Source: erulissedm)
Something untold
Carmine menatap langit yang kelabu, satu persatu tetes air turun menghujani bumi. Wanita itu menghela napas sedikit lalu mengedik ke arloji yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Masih belum terlalu sore, namun cahaya matahari tertutup gemuruh hujan dan awan menghasilkan pemandangan remang-remang lembab khas subuh hari.
Sebenarnya ia enggan pulang saat itu. Itu bukan jam pulang kerjanya yang normal pada hari-hari biasa. Namun sekolah sudah kosong melompong, besok murid-murid akan libur dan hari ini mereka pulang pagi. Carmine berleha-leha sepanjang hari karena tak banyak yang bisa dikerjakan. Ia menunda-nunda jam pulangnya, tetapi sudah tiga jam ia berdiam diri menunda kepulangan di UKS, tetap saja ini masih terlalu pagi untuk pulang ke rumahnya.
Lagipula hal apakah yang membuat ia tertarik pulang ke rumah selain tidur ketika larut malam. Kedua anak angkatnya masih berbaring di bangsal rumah sakit, sementara satu yang lain masih dinyatakan hilang. Lalu untuk apakah ia pulang cepat bila perlu? Ia hanya akan tidur-tiduran dari sore sampai jam makan malam, lalu tidur cepat. Sungguh tak banyak yang dapat ia kerjakan
Carmine mengeluarkan payung kecil dari tas jinjing kecilnya, lalu melangkah malas menjauhi pintu gerbang sekolah. Hanya sekali ia berpaling sebentar untuk melambai ringan ke seorang guru di lantai atas melalui jendela. Lalu kembali gontai berjalan menebus hujan.
Matanya menatap ke depan dengan bosan, sesekali menatap pijakannya lalu merapatkan mantel yang ia pakai setiap hari mulai dari beberapa hari yang lalu. Mantel ini mulai terasa tidak menyiksa, malah lebih berguna ketimbang hari-hari sebelumnya dimana ia memaksakan memakai pakaian itu di tengah hari terik. Mobil berlalu lalang di jalanan, lampu-lampu mereka terlihat buyar di tengah air hujan. Suasana yang terlalu tenang, khidmat, membosankan………. dan membuat ia merasa kesepian.
Ia ingin menemui kekasihnya, Ainnath, tapi ia urungkan ketika melirik tangannya yang berbalut sarung tangan tebal. Pria itu pasti masih merasa terluka. Carmine masih menjaga jarak dengannya, bahkan masih takut dan terlihat gugup jika berada di sekitarnya. Keadaan memburuk saat Ainnath terasa mulai menjauh. Pria itu memang memberikan ruang kosong diantara mereka, seperti yang Carmine butuhkan, tapi di saat yang sama ruang kosong itu membuat mereka kesepian satu sama lain. Seperti orang yang saling merindu, namun terpisah tanpa sebab. Tidak logis. Ah, persetan dengan logika, ini menyangkut perasaan. Tidak ada yang bilang perasaan butuh logika!
Carmine menggelengkan kepalanya dan mengalihkan pikirannya untuk berniat ke supermarket, membeli bahan makanan atau apapun, ia tak peduli. Yang penting, ia bisa pulang agak malam sedikit.
Ketika wanita itu melangkah cepat di jalan penuh dengan pejalan kaki berpayung, ia terdiam saat sebuah sepeda berdecit berhenti tepat di depannya. Ia dan pemuda yang mengendarai sepeda itu saling pandang bisu sesaat. Namun kemudian pria itu baru menyadari ia sedang buru-buru menghindari hujan dan basah kuyup. Ia menemukan Ainnath. Dan Ainnath menemukannya.
Dengan cepat, Carmine melangkah mendekat, menyodorkan payungnya agar melingkupi ia dan Ainnath dari serangan hujan. Sepedanya basah kuyup, tapi setidaknya pemuda itu tidak perlu menjadi lebih basah kuyup dari sebelumnya.
Ainnath diam, antara ingin berterima kasih dan merasa senang serta canggung. Ia berusaha memecah kesunyian dengan berdeham ringan. “Sedang terburu-buru?”
Carmine menggeleng,”Tidak.”
“Ah, kalau begitu naiklah.” Ainnath menyapukan tangannya ke tempat duduk di belakangnya. Masih agak basah.
“kau…. hmm…. tidak sedang menuju suatu temp—“
“Tidak. Tidak. Aku tadi mau pulang. Kemarilah, kuantar kau pulang.” Potongnya masih terdengar ramah.
Carmine tersenyum lemah, seperti merasa tidak enak, lalu duduk di belakang Ainnath sambil memegangi payung agar mereka berdua tidak tersiram hujan. Nyatanya, di sepanjang perjalanan, mereka sama-sama basah di terpa hujan.
“peganganlah yang kuat.” Kata Ainnath, memperingatkan Carmine. Alih-alih langsung menempel pada Ainnath seperti biasanyanya, ia malah menarik belakang baju Ainnath.
“ Tidak mau.” Katanya lirih. Tidak ada nada menggoda atau bercanda seperti biasanya. Carmine tentu saja sangat mau memeluk punggungnya, tapi ia tidak mau ambil resiko. Dan itu membuatnya sedih, sehingga mengatakan sesuatu dengan nada lirih seperti itu.
Ainnath tediam, ia melirik sedikit ke arah Carmine lalu bibirnya terkatup rapat. Ia tahu penolakan yang menyakitkan itu sudah sering dirasakannya akhir-akhir ini. Tapi kian hari, ia bukan merasa terbiasa, tapi penolakan itu makin terasa semakin sakit.
Pria itu mengayuh sepedanya dengan kuat hingga gumamannya di sela senyum kecutnya hampir seluruhnya terbawa angin. “sebegitunyakah?”
Carmine terbelalak ngeri. Ia baru saja benar-benar menyakiti Ainnath dengan sangat kritikal. “tidak, bukan begitu!” teriaknya takut.
Ainnath menoleh sedikit, lalu mengarahkan pandangannya kembali ke jalanan. Bibirnya melengkung membentu senyum kecut. “lantas?”
“aku ….” Carmine terdiam. ”aku……. tidak pernah berubah…” ia tertunduk. Mencari-cari kalimat yang tepat tetapi tidak berhasil mendapatkan apapun.
Ainnath diam saja selama perjalanan menuju rumah Carmine. ia hampir langsung saja mengayuh pergi saat ia telah menurunkan Carmine di depan rumahnya. Tapi Carmine menarik bajunya, menahannya tetap disana.
“mampirlah. Kau sudah basah kuyup. Setidaknya tunggulah sampai hujan berhenti.” Kata Carmine dengan serius, benar-benar berharap pria itu akan tinggal.
Ainnath diam, tapi ia mengikuti Carmine saat memasuki halaman, melintasi garasinya. Anehnya Carmine malah menariknya memutari sisi rumah. Wanita itu membuka pintu samping yang terbuat dari kaca yang besar. Tepat saat Ainnath mendekati pintu, Carmine menarik payungnya, membuat Ainnath tersiram air hujan dan refleks melompat masuk lewat pintu kaca. Pria itu menoleh ke belakang saat ia malah mendengar suara pintu tertutup dan benar saja….. Carmine menguncinya dari luar.
Pria itu mengetuk pintu kaca itu, sambil meminta dibukakan pintunya. Carmine terkikik, lalu memasang senyuman jahil di bawah naungan payungnya.
“Ada apa ini? Kenapa kau mengurungku?” tanya Ainnath sebal, mencoba membuka pintu tersebut.
Carmine membuat isyarat bahwa ia tak dapat mendengar apa yang Ainnath katakan. Jadi wanita itu mendekatkan telinganya ke kaca.
“ ayolaah. Bercandanya di dalam saja.” Bujuk Ainnath, menaikkan suaranya agar terdengar. Tapi Carmine lagi-lagi membuat isyarat ia tak mendengar apa yang Ainnath katakan lalu di susul isyarat agar Ainnath mendekati kaca.
Ainnath mendekatkan wajahnya ke kaca. Saat ia hendak membujuk lagi, Carmine mencondongkan wajah ke depan kaca lalu mengecup kaca itu tepat di depan wajahnya yang berjarak beberapa milimeter. Kecupan cepat, yang membuat Ainnath kaget dan dengan refleks sedikit mengejut ke belakang. Ia terdiam. Sementara di seberang kaca Carmine tersenyum lebar, agak menggodanya.
Semburat kemerahan terpoles di pipi Ainnath. Lalu ia tertawa kecil berusaha menyamarkan kemerahan di pipinya. “kau ini….” ia menggeleng ringan.
Carmine masih cekikikan kecil di depan kaca. Tangan wanita itu terjulur ke depan, membentuk simbol hati dengan menghapus embun di permukaan kaca yang basah. Lalu tersenyum sembari memeriksa ekspresi di wajah Ainnath.
Pemuda itu tersenyum geli melihat simbol yang digambarkan oleh Carmine. lalu ia mengeluarkan ponselnya di kantong celana. Menelpon sebuah kontak sambil memberi Carmine isyarat untuk mengeluarkan ponsel miliknya.
“hey.” Ainnath menyapa dari balik kaca melalui ponselnya, mengusap permukaan kaca dengan tangan kanannya, memperhatikan Carmine di seberang.
“hallo.” Jawab Carmine tersipu. Lalu mereka membisu, menatap satu sama lain dengan senyum-senyum kecil terkulum.
Carmine menunuduk lalu siap membuka pembicaraan. Kemudian wanita itu kembali menatap Ainnath dari balik kaca.
“kau tahu…. seperti simbol ini…” carmine menunjuk simbol hati yang digambarnya tadi. “ada banyak hal yang tak bisa dikatakan.”
“Seperti halnya cintaku. Aku tak pernah mengatakannya. Tapi aku meyakinkanmu bahwa cintaku padamu memang ada. Ini bukan sesuatu yang bisa dikatakan, tapi dirasakan.” Kata Carmine sembari menatap mata biru pemuda di balik kaca.
Ainnath terdiam. Ia sedang menyesapi kalimat yang baru saja diutarakan kepadanya. Lalu pria itu menurunkan ponselnya. Dari balik kaca, ia mengatakan sesuatu.
“Apa??” Carmine semakin mendekatkan diri pada kaca. Kemudian Ainnath membalas kecupannya dari balik sana. Ekspresinya kaget, persis seperti ekspresi milik Ainnath tadi. Ainnath tertawa, lalu kembali mendengarkan dari ponselnya.
“Kau tadi bilang apa sih?” Tanya Carmine penasaran.
Ainnath malah tertawa.
“sesuatu yang tidak bisa dikatakan, tapi aku akan membuatmu merasakannya” pria itu tersenyum mantap dari balik kaca.